Sabtu, 31 Mei 2014

Memperingati Hari Pancasila 1 Juni 2014

Monumen 'Pancasila Sakti' atau sering disebut juga monumen 'Pahlawan Revolusi' dibangun atas prakarsa Soeharto.



Coba lihat kejanggalan Orde Baru memperlakukan Pancasila. Di satu sisi, sejak 1 Juni 1970, rezim Orde Baru melarang peringatan Hari Lahirnya Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Juni. Di sisi lain, Orde Baru kemudian membuat peringatan sendiri, yakni setiap tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Siapapun tak bisa menyangkal, Pancasila lahir dari pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945 di hadapan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan/BPUPKI). Dan, tidak bisa disangkal pula, bahwa penggali Pancasila adalah Bung Karno.

Sayang, sejak Orde Baru berkuasa, proses pemalsuan sejarah intensif dilakukan. Termasuk terkait sejarah Pancasila. Sejak tahun 1971, Orde baru melalui ideolognya, Nugroho Notosusanto, mulai menyusun versi manipulatif terkait sejarah Pancasila. Hasilnya gampang ditebak: peranan Bung Karno dihilangkan dan 1 Juni 1945—sebagai Hari Lahirnya Pancasila—dikaburkan.

Sebaliknya, Orde Baru kemudian menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Ini diputuskan sendiri oleh Soeharto melalui Surat Keputusan Presiden No. 153/1967. Alhasil, selama 32 tahun kekuasaan orde baru, hari kelahiran Pancasila tidak pernah diperingati, tetapi Hari Kesaktian Pancasila selalu diperingati.

1 Oktober sendiri mengacu pada 1 Oktober 1965, yakni peristiwa dimulainya “kudeta merangkak” terhadap pemerintahan Bung Karno. Sejak itu, peringatan 1 Oktober sebagai “Hari Kesaktian Pancasila” menjadi glorifikasi terhadap rezim Orde Baru atas jasa-jasanya menumpas komunisme dan sebagai ‘penyelamat’ Pancasila.

Sekarang ini, setelah berbagai fakta sejarah mengenai peristiwa 1965 mulai terungkap, ada baiknya predikat Orde Baru sebagai penyelamat Pancasila perlu ditinjau ulang. Ini sekaligus untuk membersihkan Pancasila dari lumuran dosa rezim Orde Baru.

Saya sendiri punya beberapa alasan mengapa peringatan 1 Oktober 1965 itu harus digugat. Pertama, aksi politik yang dilakukan oleh Soeharto dan sekelompok tentara pada 1 Oktober 1965 dan sesudahnya adalah aksi kudeta terhadap pemerintahan yang sah, yakni pemerintahan Bung Karno. Saya kira, tidak etis bila bangsa ini terus merayakan sebuah kejahatan demokrasi, yakni kudeta terhadap pemerintahan yang sah dan didukung oleh rakyat, sebagai hari kebanggaan nasional.

Kedua, 1 Oktober 1965 merupakan “titik balik” dari perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme dan imperialisme. Kita tahu, hanya beberapa minggu setelah Soeharto dilantik sebagai Presiden, PT. Freeport mulai menjarah kekayaan alam di Papua. Lalu, setelah UU PMA tahun 1967 diteken, Soeharto mulai mengundang korporasi asing untuk mengembang-biakkan keuntungannya di Indonesia, dengan menjarah kekayaan alam Indonesia dan menjadikan bangsa Indonesia sebagai kuli murah di negeri sendiri.

Praktis, sejak itulah cita-cita Revolusi Nasional Indonesia, yang berkeinginan melikuidasi struktur ekonomi kolonial, telah berakhir di tangan Soeharto dan begawan-begawan ekonominya yang disebut “Mafia Barkeley”. Ironisnya, Soeharto menipu rakyat dengan menyebut sistem ekonomi kapitalistiknya sebagai “ekonomi Pancasila”. Tidak masuk akal, sistem ekonomi yang begitu tuntuk kepada kapital asing, yang hanya memperkaya segelintir kapitalis, yang mengesahkan pencolengan uang negara, yang mewarisi kita hutan luar negeri ribuan Triliun, justru disebut “ekonomi Pancasila”.

Ketiga, sejak 1 Oktober 1965, dalam rangka menumpas pendukung Bung Karno dan membangun kekuasaannya, orde baru melakukan pembantaian terhadap jutaan orang. Dari dokumen sejarah yang kita dapatkan hari ini, banyak diantara mereka yang dibantai itu—petani, buruh, mahasiswa kiri, perempuan, seniman progressif, dan intelektual—adalah pendukung loyal politik Bung Karno.
Ini adalah kejahatan kemanusiaan. Konon, kejahatan kemanusiaan rezim Orde Baru merupakan tragedi kemanusiaan terbesar kedua setelah  Holocaus Nazi/Hitler. Saya kira, sebagai negara yang berdasarkan Pancasila, yang menjunjung tinggi kemanusiaan, tidak pantas memperingati hari dimulainya Genosida (1 Oktober 1965) itu sebagai hari kemenangan nasional.

Keempat, 1 Oktober 1965 menandai dimulainya gelombang budaya anti-demokasi dan barbarian. Sejak itu, jutaan buku, terbitan, dan bacaan-bacaan hasil karya manusia Indonesia dibakar. Kebudayaan rakyat yang progressif dan demokratis, karena dianggap budaya PKI, kemudian dimusnahkan dan dilarang. Begitu Orde Baru berkuasa, kritik dan kebebasan berpendapat dilarang. Para seniman tidak bebas berekspresi. Lantas, tidak sedikit media massa, terutama koran, yang dibredel. Di era Orde Baru, membakar buku adalah hal yang lazim. Padahal, kata Heinrich Heine, penyair Jerman yang terkenal itu: “where books are burned, human beings are destined to be burned too…”

Kelima, aksi kontra-revolusi Soeharto dan kelompoknya, bagi saya, menyisakan beban sejarah dan kerugian yang sangat besar bagi bangsa Indonesia hingga sekarang.
Praktek pemberangusan ideologi di era Orde Baru, terutama ideologi kiri, menyebabkan bangsa kita mengalami kemandekan, miskin imajinasi, tidak kritis, dan kurang kreatif. Hingga sekarang, banyak generasi Indonesia, terutama yang dilahir di era Orba hingga sekarang, masih gelap ketika melihat sejarah negerinya.

Sebagian kontrak karya pertambangan yang merugikan bangsa Indonesia, seperti dengan Freeport, adalah hasil kongkalikong Soeharto dan modal asing. Utang luar negeri yang terus membebani APBN kita hingga sekarang juga sebagian besar adalah warisan rezim orde baru. Sekarang ini, 69 tahun usia Pancasila dan menjelang 69 tahun usia Proklamasi Kemerdeaan Republik Indonesia, saatnya kita menyambungkan kembali benang sejarah bangsa yang pernah diputus oleh Orde Baru. Mari menghidupkan kembali roh Pancasila yang sangat anti-kolonialisme dan anti-imperialisme untuk kembali membebaskan negeri ini dari penjajahan baru:neo-kolonialisme. (Repost)

Kamis, 29 Mei 2014

SAPRIADI BERJUANG UNTUK KESETARAAN DAN KEADILAN RAKYAT NATUNA

sapriadi (acip) ketua jim natuna
Dalam menapaki hidup kita tentu akan mengalami kesulitan maupun kesenangan inilah yang tergambar dalam sosok Sapriadi alias acip yang lahir pada tanggal 11 januari 1992 di midai kabupaten natuna  perjalan hidup yadi di mulai dari sejak dia kecil ketika pertama kali mengijak bangku sekolah di SMP N 1 midai dia juga bekerja paruh waktu dengan mencangkul kebun orang lain demi melanjutkan sekolah hal ini membuat yadi lebih giat dalam segi akademis tapi sayang pergaulan justru membawa yadi masuk kedalam lingkaran yang membuat dia tidak bisa mengarahkan hidupnya dengan baik,setelah itu yadi masuk ke sekolah yang notabenya adalah sekolah negeri pertama di midai yaitu SMA N 1 midai, dalam menjalani sekolah yadi remaja sangat suka bergaul sehingga pergaulanya ini pun membuat dia justru terjerumus dalam pergaulan yang kurang baik, tapi di sisilain yadi mencoba mencari penghasilan dari mengakat pasir sampai menjadi buruh kasar pekerjaan yang dia jalani justru membuat dia semakan dewasa dalam menapaki hidup. anaka dari pasangan Muklis dan maisalamah ini juga sempat menjadi atlit volli di daerahnya dan mendapatkan juara 2 dalam ajang tersebut merupakan hal yang membanggakan baik untuk kelurga maupun daerah yang dia bawa.
sampai pada akhirnya sapriadi harus melanjutkan sekolah ketingkatan perguruan tinggi  dan merantau ke tanjungpinang
demi mewujudkan cita-cita membangun daerah yang dia cintai, bukan tanpa halangan yadi berkuliah di universitas maritim raja ali haji mulai dari tidur di jalan ,berpindah-pindah kos, jualan pulsa sampai kembali menjadi buruh kasar telah di lewatinya ini juga yang menyebabkan yadi terkesan apatis dalam menjalai hidup
mejadi tim sukses walikota tanjungpinang tidak pernah terbesit sedikitpun lewat jalur organisasi Forum komunikasi lintas pemuda menjabat sebagai anggota humas dari sisnilah yadi memilih jalur organisasi untuk memantapkan mimpi membangun daerahnya tidak lama sapriadi ingin aktif dalam kegiatan organisasi yadi pun masuk ke Jaringan informasi mahasiswa natuna sebagai anggota dengan kemampuan yang cukup mumpuni yadi siap dan di anggkat menjadi ketua di jim natuna dalam hal ini perjuangan pertamanya adalah memuntut Jasman harun pejabat mantan koruptor untuk melepaskan jabatanya karna yadi berpikir pejabat korup tidak perlu membangun daerah dengan penghianatan dan gaya korupnya tutur yadi dalam penggalan wawancara media masa
hal ini bukan tak berdapakan hasil yadi dan teman-teman jim natuna berhasil menurunkan pejabat mantan korptor itu TURUN!!
dalam perjuanganya yadi hari ini memperjuangkan Migas daerahnya yang di kuasaai dan di peras habis-habisan oleh pemerintah pusat, dengan mendesaka RUU pembentuk Provinsi kepulauan.
sampai pada hari ini yadi masih menjalankan dan memperjuangkan HAK-HAK rakyat kecil di natuna.
(@ariedistorsi)