KOTORNYA
KOTA
GURINDAM !!
Apa Kata Masyarakat mengenai Wajah Kota Gurindam yang kini dipenuhi dengan sampah?
Kota Tanjungpinang juga punya Museum
Pelantikan Satuan Pelajar Mahasiswa Pemuda Komisariat UMRAH
Sepintas Karya anak Daerah Kepulauan Riau
B E R I T A
KOTORNYA
KOTA GURINDAM !!
Akhir-akhir ini yang sering menjadi sorotan masyarakat kota Tanjungpinang adalah sampah yang justru berserakan dijalan-dijalan kecil bukan dijalan utama kota tanjungpinang dan dipermukaan laut. Tidak banyak yang peduli akan pentingnya kebersihan wajah kota gurindam ini.
"Saat ini banyak warga yang kurang memperhatikan lingkungannya, sehingga kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya masih kurang. Oleh karena itu, harus ada larangan keras yang dibuat Pemko. Kepada siapa saja yang membuang sampah sembarangan harus dikenakan sanksi tegas," kata Arif menyoal persoalan sampah di Pelantar dan Tanjungpinang secara keseluruhan,
Parahnya, sampah-sampah seperti kardus, kaleng minuman dan sampah bekas makanan sudah menutupi permukaan air laut di pelantar 2.
Warga yang ditemui di pelantar 2 membenarkan bahwa sampah-sampah yang mencemari laut itu sudah terjadi sejak Lebaran lalu. Menurut dia, sampah-sampah ini dibawa arus laut.
Saat ditemui secara terpisah, Kepala Kantor Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman Kota Tanjungpinang, Mariati, justru mengaku belum menerima keluhan langsung dari warga pelantar 2 menyusul banyaknya sampah di sana.
“Kita belum pernah mendapatkan keluhan dari warga pelantar 2 terkait banyaknya sampah yang ada di sekitar kawasan tersebut. Jika warga minta dibersihkan, maka kita akan bekerja sama dengan warga pelantar 2 untuk membersihkan semua sampah yang ada di sana,” ujar Mariati.
Menurut Mariati, pihaknya selain mengangkut sampah di pemukiman warga juga membersihkan sampah yang ada di bibir pantai, seperti di pelantar 2.
Pengelolaan sampah pesisir di pelantar II Tanjungpinang dan sekitarnya harus terintegrasi, yakni dengan melibatkan semua pihak terkait. Sampah yang terdapat di sekitar pelantar II itu selain berasal dari aktivitas rumah tangga warga, diduga juga berasal dari aktivitas perdagangan, pelayaran dan transportasi. Ada pasar tradisional didalamnya. Para pedagang, baik pedagang ikan, sayur, daging, penjual makanan dan minuman, dan barang dagangan lainnya ada yang bukan warga pelantar. Mereka hanya menjalankan kegiatan perdagangan di pasar tradisional itu dari pagi hingga sore hari. Lalu ada pekerja dan para pengunjung untuk membeli barang keperluan mereka disana.
Kemudian ada aktivitas pelayaran dan transportasi. Ada kapal yang berlabuh dan berlalulintas disana. Selama berlabuh menunggu pemberangkatan, mengisi bahan bakar minyak atau bahan keperluan lainnya, ada aktivitas yang menghasilkan sampah. Terlepas besar atau kecil volumenya dan diduga ada yang tercecer di laut, sengaja maupun tidak disengaja. Saya bukan menuduh, dan bukan bermakasud melakukan investigasi kearah itu. Syukur bila tidak dibuang ke laut. Logikanya, sampah ada karena ada aktivitas manusia.
Ada lalu lintas pompong sebagai sarana transportasi orang dan barang dari Sengggarang, Kampung Bugis atau dari luar wilayah kota Tanjungpinang, seperti daerah lainnya disekitar pesisir Bintan ke kawasan pelantar tersebut. Ada yang hanya mengantar penumpang saja dan ada juga yang terlibat langsung dalam perdagangan ikan atau pelaku pasar lainnya.
Sampah yang diangkat barusan dalam gotong royong bersama antara pihak PPP (Partai Persatuan Pembangunan) Tanjungpinang, Warga Pelantar, LSM dan pihak Dinas Kebersihan dan Pertamanan Tanjungpinang itu, hanya sebagian dari tumpukan sampah yang ada. Itu sampah yang menganga diatas lahan terbuka milik warga yang rumahnya terbakar. Masih banyak sampah lain yang berada dibawah pelantar rumah ataupun ruko.
Karena jenis sampahnya pada umumnya berasal dari bahan yang terbuat dari plastic seperti kantong, botol minuman dan jenis lainnya, maka sampah itu mudah bergerak mengikuti arus air laut maupun angin. Namun bisa juga menetap disana karena sudah menyatu dengan lumpur dan terhalang tonggak-tonggak tiang beton pelantar yang rapat jaraknya satu dengan lainnya. Dari hasil pengamatan sementara seperti itu.
Pengelolaan sampah pesisir di Pelantar ini harus terpadu dengan melibatkan semua pihak terkait. Bila tidak, kita akan terjebak pad da perilaku yang saling menyalahkan satu dengan lainnya.
T A H U K A H A N D A ?
TANJUNGPINANG JUGA PUNYA MUSEUM
Tahukah kalian bahwa Kota Tanjungpinang juga mempunyai Museum yang berisikan sejarah-sejarah tentang kemerdekaan semasa tempo dulu. Museum itu diberi nama Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah. Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah merupakan salah satu upaya Pemerintah Kota memberikan ruang yang luas kepada seluruh masyarakat untuk mengetahui dan mempelajari benda koleksi yang dipamerkan di museum. Kami menyadari koleksi yang ada di Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah belumlah memadai sebagaimana yang diharapkan kita semua, namun setidaknya dapat memberikan kontribusi pada khalayak ramai. Harapan kami dengan adanya museum, kepada pemilik barang yang menguasai benda warisan budaya dapat menyerahkan kepada Pemerintah untuk menambah khazanah koleksi museum.
Menelusuri jejak Kota Tanjungpinang dapat dilakukan dengan berkunjung ke Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, yang menempati eks gedung pertama Sekolah Tingkat Dasar masa kolonial dengan namaHollandsch-Inlandsche School (HIS) tahun 1918, yang pada zaman Jepang diganti dengan nama Futsuko Gakko. Pada zaman kemerdekaan gedung ini tetap difungsikan sebagai Sekolah Rakyat dan akhirnya dijadikan SD 01 sampai tahun 2004. Mengingat gedung ini memiliki nilai penting bagi sejarah awal mula pendidikan di Tanjungpinang, maka direkomendasikan untuk dijadikan Museum Kota Tanjungpinang dengan nama Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah.
Koleksi yang dipamerkan di museum menceritakan tentang Tanjungpinang Kota Bermula, Seni dan Budaya, Keragaman Budaya di Kota Tanjungpinang, dan berbagai jenis keramik yang dikumpulkan dari Tanjungpinang dan daerah sekitarnya. Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah diharapkan dapat menjadi pusat studi wisata budaya, pelestarian, dan upaya menjadikan masyarakat lebih menghayati nilai luhur kebudayaan.
KOLEKSI KERAMIK
I. KOLEKSI ETNOGRAFI
Koleksi etnografi merupakan benda-benda hasil budaya berbagai etnis berupa peralatan yang digunakan untuk upacara maupun dipakai sehari-hari seperti perhiasan atau aksesori, busana, senjata, dan juga peralatan rumah tangga.
II. KOLEKSI KERAMOLOGIKA
Koleksi keramik kebanyakan untuk peralatan rumah tangga dengan bahan tanah liat. Umumnya berasal dari China, Jepang, dan Eropa, seperti kendi, piring, guci, atau tempayan.
III. KOLEKSI TEKNOLOGIKA
Benda-benda koleksi teknologika merupakan benda hasil teknologi yang menggambarkan tingkat pencapaian teknologi suatu zaman. Benda-benda koleksi berupa alat-alat musik diantaranya gramafon, akordeon, alat-alat teknologi seperti mesin penggiling karet, telepon engkol, dll.
GALERI KERAGAMAN BUDAYA
IV. KOLEKSI HISTORIKA
Benda-benda atau sesuatu yang mempunyai nilai kesejarahan, menjadi objek studi tentang sejarah meliputi kurun waktu ditemukan catatan-catatan tentang sejarah, masuknya pengaruh bangsa lain. Benda-benda tersebut pernah digunakan berhubungan dengan kejadian/peristiwa sejarah. Koleksi-koleksi yang dipamerkan antara lain artefak, catatan dan naskah kuno, gambar-gambar ilustrasi, miniatur, dan foto-foto.
V. NUMISMATIKA DAN HERALDIKA
Koleksi numismatik merupakan benda-benda yang pernah beredar dan digunakan masyarakat seperti koin, uang kertas, dan token. Sedangkan koleksi heraldika berupa lambang-lambang, medali/tanda jasa, cap/stempel, dan amulet.
VI. FILOLOGIKA
Benda koleksi yang merupakan hasil budaya manusia masa lampau berbentuk tulisan tangan. Koleksi seperti ini sangat banyak ditemukan di daerah Pulau Penyengat yang memang terkenal sebagai kawasan budaya sastra Melayu.
Naskah-naskah tersebut berisikan hal-hal yang berhubungan dengan ajaran agama, hukum, silsilah, perjanjian, dan lain sebagainya.
KOLEKSI GALERI
ALAM PERKAWINAN MELAYU
VII. FOTO-FOTO SEJARAH
Salah satu andalan di setiap museum adalah koleksi foto sejarah, demikian pula dengan Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah. Koleksi foto sejarah yang dimiliki diharapkan dapat membangkitkan rasa cinta kepada Tanjungpinang yang terus berkembang seperti tergambar pada foto-foto yang ditampilkan. Hal ini tentu saja akan dapat pula mengundang rasa nostalgia yang memberikan nilai tambah terhadap Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah.
VIII. PELAMINAN
Satu lagi andalan Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah adalah Pelaminan Melayu yang ditata sedemikian rupa sehingga diharapkan pengunjung akan terbawa pada suasana pernikahan Melayu yang sebenarnya. Di ruang yang khusus diperuntukkan untuk pelaminan ini menggambarkan bahwa adat istiadat pernikahan Melayu tidak pernah dilupakan dan ditinggalkan oleh masyarakat Tanjungpinang yang masyarakatnya terdiri dari berbagai kaum.
Sumber: Brosur 'Museum Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah' (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang.
Alamat:
Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah
Jl. Ketapang no.2
Tanjungpinang
Kepulauan Riau
http://museumtanjungpinang.org
Jam Kunjungan:
Selasa-Minggu 08.30-14.30
Jumat 08.30-11.30
PELANTIKAN SATUAN PELAJAR MAHASISWA PEMUDA PANCASILA (SAPMA PP) KOMISARIAT UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
Sempena memperingati hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 november, Satuan Pelajar Mahasiswa Pemuda Pancasila Komisariat UMRAH melaksanakan malam renungan sekaligus pelantikan ddari ketiga komisariat yaitu dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Aditiyo Hardiyanto, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Adreas Febrico, dan Fakultas Ekonomi (FEKON) Angga Sosrowinoto didepan Gedung daerah tepatnya di tugu proklamasi.
Dalam acara itu, dihadiri oleh Bapak Boby Jayanto selaku sesepuh, kaderisasi Pemuda Pancasila Kota Tanjungpinang, petinggi-petinggi dari Pemuda Pancasila Kota Tanjungpinang, ketua SAPMA PP PROVINSI KEPRI, ketua SAPMA PP KOTA TANJUNGPINANG, ketua Srikandi, OKP-OKP dan Ormawa seperti BEM, HIMA-HIMA dari setiap universitas maupun sekolah tinggi.
Diakhir acara ini, disuguhkan theatrical dari gabungan setiap SAPMA PP Komisariat UMRAH dalam memperingati hari pahlawan yang telah memperjuangkan Negara dan Bangsa Indonesia itu sendiri, selain theatrical ada pembacaan puisi dari Bapak Boby Jayanto dan Undangan lainnya termasuk anggota SAPMA PP Komisariat UMRAH itu sendiri. red JIM-KEPRI
SEPINTAS KARYA ANAK DAERAH KEPULAUAN RIAU
Fatih Muftih adalah seorang penulis dari kalangan mahasiswa yang saat ini sedang menjalani perkuliahan di kampus Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) semester V Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
Salah satu bentuk nyata dari karya anak daerah ini adalah “TAK MELAYU HILANG DIJAWA” yang tak tanggung-tanggung beberapa kali mendapat juara 1 (satu) dan 2 (Dua) di daerah Tanah Jawa seperti Yogyakarta dan Jakarta.
Dalam buku “TAK MELAYU HILANG DIJAWA” dikisahkan tentang kehidupan sehari-harinya dan kisah seputar lingkungannya dimana dia bekerja dan menuntut ilmu, satu-satu bukti ketidak puasannya terhadap kampusnya sendiripun ada disalah satu judul cerita didalam buku tersebut. Suka cita yang dihadapi penulis dituturkan kepada Tim Redaksi JIM-KEPRI sendiri,
Penasaran? nantikan launching buku “TAK MELAYU HILANG DIJAWA” karya Fatih Muftih.
CURAHAN HATI SEORANG FATIH MUFTIH SANG PENULIS MUDA BERBAKAT
Melalui Media Jaringan Informasi Mahasiswa Kepri, faith begitu sapaannya berbagi pengalaman, suka cita saat pertama kali mencoba menulis sampai akhirnya menerbitkan buku sendiri. sebuah karya sastra yang sempurna untuk kalangan seumuran faith. Apa saja kata faith?berikut penuturannya.
Banyak kisah yang lahir dibalik penggarapan buku pertama saya, kadang tak pernah terfikirkan akan memiliki buku dalam usia semua ini, mengingat banyak sastrawan-sastrawan besar Indonesia yang baru bisa memiliki buku ketika berusia 20-an keatas. Tapi ada seseorang yang terus menyemangati saya untuk tetap dan terus berkarya. Pesannya yang terakhir agar saya mengumpulkan naskah cepen saya dan mengumpulkannya menjadi satu jilid. Lantas, tentu saja menerbitkannya.
Siapa dia? Akan saya ceritakan di akhir tulisan ini, dalam proses penulisan cerpen demi cerpen itu saya mendapati banyak pengalaman serta pembelajaran yang tentunya tidak akan saya lupakan. Mengingat dari situ saya banyak mendapat perspektif baru. Saya jadi teringfat betul tentang perlakuan diskriminatif yang dilakukan salah satu panitia yang memenangkan cerpen saya. Menurut mereka, saya yang orang jawa tidaklah mungkin bisa menulis sebuah kisah berlatar belakangkan budaya melayu yang kental seperti ini. Mereka menduga saya telah melakukan plagiasi terhadap karya sastra yang ada.
Namun, karena saya merasa tidak melakukan plagiasi seperti apa yang mereka tuduhkan, saya tetap maju lantas saya kumpulkan bukt-bukti interview saya dengan narasumber. Hasilnya merekapun terdiam setelah saya menujukkan bukti yang akurat. Kadang untuk jadi sukses ditanah orangt sebagai pendatang, perlu kerja yang lebih.
Satu lagi kisah dibalik penulisan kumpulan cerpen “TAK MELAYU HILANG DIJAWA” yang membuat saya bergedik!. Saya baru percaya jika kekeuatan kata-kata dapat menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum. Pada saat itu, cerpen saya dimuat di Haluan Kepri. Cerpen itu saya tulismurni karena hati saya merasa terpanggil untuk menuliskannya. Tidak ada maksud apapun dibalik penulisan cerpen itu. Sekali lagi saya tegaskan MURNI! Nyatanya ada sekelompok pihak yang merasa tersinggung dengan cerpen yang saya tulis. Mereka tak henti meneror saya dan yang paling (sempat) membuat saya bingung adalah permintaan mereka. Dua hari setelah publikasi mereka menuntut saya untuk mengadakan pers release untuk mencabut cerpen saya yang disinyalir menyinggung kelompok tersebut. Jika tidak, maka mereka akan melakukan sesutau yang buruk terhadap saya.
Ini sempat membuat saya gusar dan gentar. Bagaimana tidak, saat itu saya terbilang masih bau kencur. Baru satu tahun saya menginjakkan kaki di Kota ini, tiba-tba sebuah kelompok meneror saya, pada saat itu saya sempat didera frustasi yang luar biasa. Bahkan saya sempat ingin pension dini dari dunia penulisan. Namun, seseorang yang pernah saya singgung di paragraph awal menasihati bahkan siap membantu saya. Menurutnya, setelah mengamati cerpen saya tidak ada kesalahan dari kata-kata yang saya tuliskan. Tidak ada kalimat yang menyatakan pencemaran nama baik kepada seseorang maupun kepada kelompok tertentu.
“Tetap maju! Saya dibelakangmu” tegasnya saat itu. Dan ini sangat-sangat membantu disaat kondisi psikologis saya yang ambruk. Sayapun mulai tidak menanggapi teror-teror yang datang dari kelompok itu. Bahkan jika perlupun saya bisa melaporkan mereka pada pihak yang berwajib. Tapi saya rasa tidaklah perlu. Saya msih ingin hidup tenang dan baik-baik saja dikota orang. Lambat laun, kelompok yang meneror saya itupun bosan dan menghilang entah kemana. Detik itupun saya memulai membangunkembali mental saya untuk kembali menulis, menulis dan menulis.
Dengan keringat dan doa, maka 18 (Delapan Belas) cerpen itu dirasa cukup untuk dibukukan. Amka pada tanggal 16 September 2011, “TAK MELAYU HILANG DI JAWA” buku kumpulan cerpen saya resmi diterbitkan. Menggandeng penerbit Leutikaprio dari Yogyakarta, tentunya bukan alasan menerbitkannya di penerbit Indie. Apalagi kalau bukan alasan klasik yang tetap menggelitik, dana. Tapi saya harus punya buku, setidaknya untuk menegaskan eksistensi saya sebagai penulis. Ada kesedihan yang mendalam yang membuat saya sangat terpukul. Seseorang yang saya sebut diparagraf awal itu tak sempat elihat karya pertaama saya. Apdahal draft untuk meminta endorsement serta kata pengantar darinyasudah saya sodorkan. Tapi apa daya, tak ada yang bisa menantang masa. Beliau keburu dijemput oleh Yang Terkasih. Pada tanggal 13 Juli 2011 saya harus kehilangan orang paling berjasa dibalik karier kepenulisan saya. Dia adalah Tusiran Susen. Padahal tia yang paling indah bagi saya kecuali mempersembahkan karya karya saya buat orang-orang yang saya cintai dan orang-orang yang mencintai saya. red JIM-KEPRI
Pelindung : Ketua Jaringan Informasi
Mahasiswa Kepulauan
Riau
Penulis : Belladina
Ketua Redaksi : Fatih Muftih
|